Rabu, 21 November 2018, WIT


Sekolah Kristen Kalam Kudus Timika menggunakan Kurikulum Nasional yang dikembangkan sesuai dengan visi dan misi SKKK, yang dikenal dengan nama Kurikulum i-Learning.

Pengertian Kurikulum i-Learning adalah sebagai berikut :
I adalah singkatan dari Integrated (terpadu/ yang dipadukan).  Di dalam kurikulum i-Learning yang digunakan di Sekolah Kristen Kalam Kudus, prinsip iman kristen diintegrasikan ke dalam ilmu pengetahuan di setiap mata pelajaran.   Prinsip iman kristen yang diintegrasikan bersumber dari Alkitab, memuat mandat penciptaan, mandat budaya dan mandat penginjilan.   Itu sebabnya integrasi yang dilakukan akan mengaitkan setiap pembelajaran dengan kebenaran Alkitab, yaitu mengenai adanya mandat penciptaan, mandat budaya, dan mandat penginjilan.  Integrasi yang dilakukan akan mengungkapkan kebenaran Tuhan dan rencana Allah dalam setiap kehidupan siswa.  John Calvin (1509-1564) pernah menyatakan bahwa tidak ada bagian dari Alkitab yang tidak dapat berkontribusi yang menjadi petunjuk bagi pembentukan perilaku dan kehidupan kita. 

“There is no part of the Scripture which cannot contribute to our instruction and the forming of our life and manner . . . Let us,  therefore, labor diligently to learn the contents of the Book of God, and never forget it is the only writing in which the Creator of heaven and earth condescends to converse with mankind.”

Pelaksanaan integrasi prinsip iman kristen dalam pembelajaran terwujud dalam pembinaan siswa dalam memiliki Biblical Worldview,  Christian Mind, Christian Nurturing dan Christian Formation.  Mata pelajaran-mata pelajaran yang diberikan secara integrasi satu sama lain diharapkan dapat memandu setiap siswa memahami seluruh kebenaran Alkitab dalam rangkaian Creation,  Fall, Redemption and Consummation. Dengan demikian setiap siswa akhirnya memiliki cara pandang atau berpikir dan berperilaku dalam menjalankan mandat budaya dan mandat injili.

Learning  berarti Pembelajaran.
Di dalam kurikulum i-Learning, model-model pembelajaran yang digunakan mengacu kepada pendekatan yang digunakan juga di dalam kurikulum nasional.  Beberapa model pembelajaran yang digunakan adalah:

  • Model Pembelajaran berdasarkan penemuan atau mencarian (Inquiry and Discovery Based Learning). Model pembelajaran penyingkapan (Discovery Learning) adalah memahami konsep, arti dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.  Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.
     
  • Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning). Merupakan pembelajaran dengan menggunakan proyek nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada motivbasi tinggi,  pertanyaan menantang,  tugas-tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan kompetensi yang dilakukan secara kerjasama dalam uoaya memecahkan masalah.  Tujuan model ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar, team work, keterampilan kolaborasi dalam pencapaian kemampuan akademik level tinggi/ taksonomi tingkat kreativitas yang dibutuhkan pada abda 21.
     
  • Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning).  Merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan dan kontekstual.  Penggunaan model ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permaslahan baru/ nyata, pengintegrasian konsep High Order Thingking Skills (HOT’s),  keinginan dalam belajar,  mengarahkan diri sendiri dan ketrampilan.
     
  • Model Pembelajaran partisipatif (Participatory Learning). Pendidkan tradisional menerapakan pendekatan mata pelajaran di mana guru berperan sebagai nara sumber pengetahuan yang peran utamanya adalah mentransfer penegtahuan kepada anak-anak didik yang dianggap sebagai objek penerima. Kelas yang terjadi adalah peserta didik duduk secara pasif menerima ilmu pengetahuan dari sang guru.  Dalam pendidikan modern peran guru bukanlah sebagai pemberi atas transmisi ilmu pengetahuan kepada peserta didik, melainkan sebagai pelatih/ pemandu yang membuat suasana belajar yang kondusif sehingga peserta didik berpartisipasi aktif sebagai subjek pembelajar. Di dalam model pembelajaran parsipatif yang diterapkan akan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.  Model ini memberikan pengalaman belajar yang menantang bagi siswa.
     
  • Model Pembelajaran Transformatif   (Transformative Learning).  Pendidik harus menyadari bahwa proses pendidikan adalah membawa transformasi dalam kehidupan siswa.  Transformasi yang diinginkan terjadi dalam diri siswa melalui pembelajaran yang terjadi adalah perubahan kerangka cara berpikir (kognitif) dan perubahan sikap (afektif).  Perubahan pola pikir dan sikap yang terjadi di dalam diri siswa hanya dimungkinkan oleh adanya peran Roh Kudus.
     
  • Model Pembelajaran inovatif (Inovative Learning). Model ini memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (self-directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction).  Dengan model ini, siswa akan dibantu untuk menginternalisasi, membentuk kembali atau mentransofrmasi informasi baru.
     

Prinsip Kurikulum i-Learning adalah sebagai berikut :

  • Prinsip Kebenaran (Truth-principled)/ Bible Based. Kurikulum dirancang berdasarkan prinsip kebenaran Alkitab, sehingga setiap mata pelajaran harus disaringkan kembali dengan tolak ukur kebenaran firman Tuhan, dihayati dan dihidup para pendidik sehingga setiap pendidik memiliki kepekaan dan keterampilan dalam  mendeteksi konsep-konsep yang bertentangan dengan firman Tuhan.
     
  • Prinsip desain kurikulum yang terintegrasi. Kurikulum yang dirancang merupakan integrasi antar mata pelajaran, integrasi mata pelajaran, keterampilan, dan karakter; dan   akhirnya  integrasi mata pelajaran, keterampilan, karakter dan firman Tuhan/ pandangan kristiani.  Fokus pembelajaran adalah yang mampu terimplementasikan dalam realitas yang membuat peserta didik belajar semangat dan menyenangkan.  Kurikulum yang terintegrasi dilakukan pada anak sejak usia dini untuk melihat segala seuatu dengan banyak aspek  sehingga memiliki daya pengamatan, analisa dan keterampilan yang utuh.