Rabu, 21 November 2018, WIT

Rabu, 04 Jul 2018, 09:18:49, 89 View ath11webadmin, Kategori : Artikel & Renungan

Satu dari tiga hal yang paling sulit untuk dapat dilakukan dalam setiap musim kehidupan ini adalah mengucap syukur.

Andai saja di dalam Alkitab tidak ditambah keterangan waktu atau situasi “dalam segala hal”,  mungkin saja mengucap syukur menjadi hal yang sangat mudah  untuk dilakukan.  Dalam hal-hal tertentu—bukan dalam segala hal,  mudah untuk mengucap syukur: mendapat cuti dan bisa traveling, punya toko yang selalu ramai oleh pelanggan, masuk ke kantor sama seperti ke toko hobby,  mendapat promosi atau kenaikan pangkat,   hati berbunga-bunga mendapat pasangan hidup yang telah lama didoakan, dikaruniai anak yang nurut,  diberikan kepercayaan melayani di tempat yang nyaman dan aman tanpa resiko, pulang ke rumah yang cozy dengan perabot tertata rapi.  Oh, serasa duduk di tepi pantai menikmati semilir angin surganya dunia.

Tetapi ketika mengalami hal-hal tertentu yang sebaliknya, rasanya akan sangat sulit untuk melakukan apa yang namanya mengucap syukur: hanya menikmati sebuah kota yang pemandangannya itu-itu aja, toko yang mulai sepi oleh pelanggan, ditinggalkan rekan bisnis,  punya atasan yang ngga sesuai kapasitas,  punya bawahan yang ngga nyambung,  masuk ke kantor rasanya seperti masuk ruang hampa udara,  karir yang kalo mau naik mesti pake ritual ancam sana sini dulu, baru nyadar ternyata salah pilih pasangan hidup atau males pulang ke rumah karena pasangan hidupnya sukanya mengeluh,  mendadak anggota keluarga mengalami sakit yang sangat berat, dipercayakan pelayanan yang beresiko tinggi,  pulang ke rumah yang bocor sana sini, dan sejuta kegetiran lain yang mencekat tenggorokan.  Oh, rasanya ingin cepat Tuhan datang kembali.

Tetapi Alkitab tidak salah ketika menambahkan keterangan waktu atau situasi “dalam segala hal.” Mengucap syukur dalam segala hal karena inilah yang dimau oleh Tuhan untuk dilakukan anak-anak-Nya.

Ada apa dibalik mengucap syukur dalam segala hal?  Bukankah mengucap syukur juga bukan sebuah mantra yang dapat mengubah keadaan buruk menjadi baik,  susah menjadi senang, rugi menjadi untung, dan  sakit menjadi sehat dalam sekejap?  
Lalu, apa untungnya mengucap syukur?  Tidak ada untung materi apa-apa.  Yang ada hanyalah buluh yang terkulai ditegakkan-Nya kembali,  sumbu yang telah pudar dibuat-Nya terang kembali.  Yang ada hanyalah hati rapuh yang akan  dikuatkan-Nya, dan hati yang tawar dihidupkan kembali oleh kehangatan cinta-Nya.  Bukankah ini sudah lebih dari cukup?

by. NLR



Rabu, 04 Jul 2018 Renungan: Mengucap Syukurlah!

Tuliskan Komentar